Puji syukur, saya dapat melanjutkan pendidikan di
Universitas Brawijaya. Tepatnya prodi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian.
Ketika memilih prodi ini, Ibu saya (yang condong agar saya mau menekuni bidang
kesehatan) berkata, “Nak, ngapain kamu
susah-susah belajar pertanian di universitas? Toh, kamu bisa belajar bertani sama orang kampung sini.”. Demi
menurut pada orang tua, saya menentukan pilihan pertama fakultas kedokteran.
Pilihan selanjutnya, saya pilih sendiri.
Kalau kita punya suatu keinginan, tidak semuanya harus bisa terpenuhi saat ini juga, bukan? Siapa tahu hal yang kita anggap baik, adalah hal yang buruk bagi hukum Tuhan. Jangan marah terhadap keputusanNya. Jangan-jangan, usaha kita belum maksimal, hingga kita belum pantas untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Atau, pengharapan yang kita panjatkan tidak terkabul musabab dosa-dosa yang menghalangi do’a kita. Jangan marah, introspeksi pada diri kita sendiri.
Sebelum mendaratkan pilihan di Universitas Brawijaya pun
saya telah ikhtiar untuk dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi
kedianasan. Namun, dua kali ikut tes, saya gagal. RencanaNya sungguh indah, alhamdulillah. Kalau ditata lebih
panjang lagi, Fakultas Pertanian merupakan fakultas yang mempersiapkan
muda-mudi untuk dapat lebih peduli terhadap pangan masyarakat. Masyarakat tanpa pangan? Bobrok sebuah
negara.
Lanjut mengenai fakultas pertanian. “Mahasiswa Baru” (Maba),
begitulah yang menjadi label ketika kamu telah (baru) diterima di sebuah
perguruan tinggi. Kamu akan menjalani serangkaian acara pengenalan kampus,
fakultas, bahkan prodi jika namamu telah terdaftar di perguruan tinggi. Acara
tersebut sifatnya fardhu ‘ain kamu
ikuti, dengan iming-iming kalau tidak
ikut, tidak dapat sertifikat untuk persyaratan skripsimu nanti, acara yang
disusun oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ini sukses menyalurkan euforiamu
sebagai Maba.
Ikut saja, daripada mengulang di tahun depan gara-gara tidak
memenuhi persyaratan skripsi. Terlebih, acara tersebut banyak manfaatnya: dapat
kenalan, tahu kehidupan seputas kampus, seru-seruan, baris-berbaris, pendidikan
karakter, juga dibentak-bentak. Tidak ada kekerasan fisik yang dilakukan,
panitia memperlakukan Maba selayaknya Maba yang lugu nan antusias.
Dresscode atau
pakaian pengenal yang dipakai untuk acara pengenalan kampus pun diseragamkan,
agar Maba mudah mencari dan mendapatkannya. Dresscode
yang biasa digunnakan adalah kemeja putih, rok/celana hitam polos no ketat,
kaos kaki putih, serta sepatu hitam polos. Bagi putri yang berjilbab, sebaiknya
sediakan jilbab putih atau hitam. Dresscode
lain yang biasa dipakai adalah batik.
Bagi Maba, selama satu semester
dihimbau (bukan diwajibkan) untuk memakai atribut sesuai ketentuan yang
berlaku, pada masa saya di tahun 2016 yakni: Senin sampai Rabu berpakaian hem,
Kamis dan Jumat berpakaian batik. Untuk mahasiswa memakai celana kain warna
hitam, tidak boleh ketat. Begitu pula mahasiswi, rok hitam no-span. Satu lagi yang harus dipakai, yakni nametag yang berupa kartu dada sebagai
pengenal bahwa iniloh, saya Maba!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar