Minggu, 26 Februari 2017

Penerimaan dan Mahasiswa Baru

Puji syukur, saya dapat melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya. Tepatnya prodi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian. Ketika memilih prodi ini, Ibu saya (yang condong agar saya mau menekuni bidang kesehatan) berkata, “Nak, ngapain kamu susah-susah belajar pertanian di universitas? Toh, kamu bisa belajar bertani sama orang kampung sini.”. Demi menurut pada orang tua, saya menentukan pilihan pertama fakultas kedokteran. Pilihan selanjutnya, saya pilih sendiri.

Kalau kita punya suatu keinginan, tidak semuanya harus bisa terpenuhi saat ini  juga, bukan? Siapa tahu hal yang kita anggap baik, adalah hal yang buruk bagi hukum Tuhan. Jangan marah terhadap keputusanNya. Jangan-jangan, usaha kita belum maksimal, hingga kita belum pantas untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Atau, pengharapan yang kita panjatkan tidak terkabul musabab dosa-dosa yang menghalangi do’a kita. Jangan marah, introspeksi pada diri kita sendiri.

Sebelum mendaratkan pilihan di Universitas Brawijaya pun saya telah ikhtiar untuk dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi kedianasan. Namun, dua kali ikut tes, saya gagal. RencanaNya sungguh indah, alhamdulillah. Kalau ditata lebih panjang lagi, Fakultas Pertanian merupakan fakultas yang mempersiapkan muda-mudi untuk dapat lebih peduli terhadap pangan masyarakat. Masyarakat tanpa pangan? Bobrok sebuah negara.

Lanjut mengenai fakultas pertanian. “Mahasiswa Baru” (Maba), begitulah yang menjadi label ketika kamu telah (baru) diterima di sebuah perguruan tinggi. Kamu akan menjalani serangkaian acara pengenalan kampus, fakultas, bahkan prodi jika namamu telah terdaftar di perguruan tinggi. Acara tersebut sifatnya fardhu ‘ain kamu ikuti, dengan iming-iming kalau tidak ikut, tidak dapat sertifikat untuk persyaratan skripsimu nanti, acara yang disusun oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ini sukses menyalurkan euforiamu sebagai Maba.

Ikut saja, daripada mengulang di tahun depan gara-gara tidak memenuhi persyaratan skripsi. Terlebih, acara tersebut banyak manfaatnya: dapat kenalan, tahu kehidupan seputas kampus, seru-seruan, baris-berbaris, pendidikan karakter, juga dibentak-bentak. Tidak ada kekerasan fisik yang dilakukan, panitia memperlakukan Maba selayaknya Maba yang lugu nan antusias.

Dresscode atau pakaian pengenal yang dipakai untuk acara pengenalan kampus pun diseragamkan, agar Maba mudah mencari dan mendapatkannya. Dresscode yang biasa digunnakan adalah kemeja putih, rok/celana hitam polos no ketat, kaos kaki putih, serta sepatu hitam polos. Bagi putri yang berjilbab, sebaiknya sediakan jilbab putih atau hitam. Dresscode lain yang biasa dipakai adalah batik.

Bagi Maba, selama satu semester dihimbau (bukan diwajibkan) untuk memakai atribut sesuai ketentuan yang berlaku, pada masa saya di tahun 2016 yakni: Senin sampai Rabu berpakaian hem, Kamis dan Jumat berpakaian batik. Untuk mahasiswa memakai celana kain warna hitam, tidak boleh ketat. Begitu pula mahasiswi, rok hitam  no-span. Satu lagi yang harus dipakai, yakni nametag yang berupa kartu dada sebagai pengenal bahwa iniloh, saya Maba!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar